Sedangkandi Ternate ada salah satu tradisi serupa bernama Gendhang Sahur. Tradisi tersebut kemudian dijadikan sebagai festival untuk menyemarakkan bulan Ramadhan di tanah yang terkenal dengan pala dan cengkehnya ini. Festival Gendang Sahur yang telah menjadi kegiatan tahunan Pemkot Ternate tersebut diharapkan menjadi salah satu tujuan
AksalMuin. November 13, 2021. Ketua Panitia Kegiatan, Riskawati Hasanuddin. (Istimewa) PENAMALUT.COM, TERNATE - Dewan Pimpianan Cabang (DPC) Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (Patelki) Kota Ternate, menggelar kegiatan seminar ilmiah dengan tema "Update Laboratory Testing of Covid-19". Kegiatan ini dilaksanakan dalam
Situasidi Sungai DAS di Ternate Baru Lingkungan II, Kota Manado, Sulawesi Utara. Richard Sualang Tegur SKPD Absen Kegiatan HUT Kota Manado Sulawesi Utara Update Harga Ikan di Pasar Bersehati Manado Sulawesi Utara, Senin 1 Agustus 2022 Gempa Guncang Jawa Timur Malam Ini Selasa 2 Agustus 2022, Baru Guncang di Laut, Info Terkini BMKG
AiyaLee menekankan, toleransi beragama masyarakat Ternate sangatlah tinggi sejak dulu hingga sekarang. Ia mencontohkan, "Pas Imlek kemarin, ada pengajian di Gang Habib I (yang terletak di dalam Kampong Cina). Pengajian sengaja setop jam 9 malam. Kemudian di-prepare (dipersiapkan) untuk acara Imlek jam 10." Perayaan Hari Tahun Baru Imlek
PolresTernate siagakan 1.000 Personel Pengamanan Kawal rencana aksi 25 April 2022 di Ternate; Home / INFORMASI TERBARU / Melalui Kegiatan POPEDA, Polsek Ternate Utara Cegah Tindak Kriminal Malam Minggu. Melalui Kegiatan POPEDA, Polsek Ternate Utara Cegah Tindak Kriminal Malam Minggu. Share. Facebook;
TERNATEPW. Personel Komando Distrik Militer (Kodim) 1501/Ternate siap untuk mengamankan malam pergantian tahun baru 2022 di wilayah Kota Ternate dan wilayah Halmahera barat (Halbar). Sejumlah titik pengamanan menjadi perhatian Kodim 1501/Ternate, terutama kawasan obyek vital dan pengamanan di beberapa gereja dalam kegiatan ibadah malam tahun baru.
uo4EYlC. Tradisi dan Budaya Islam di Ternate β Masuknya islam ke maluku erat sekali dengan kegiatan perdagangan. Para pedagang dan ulama yang singgah ke Maluku demi mencari rempah rempah menyebarkan islam disana. Mulai dari cara berdagang secara islam, perbuatan baik hingga bentuk kerajaan yang kini menjadi kesultanan. Salah satu kerajaan islam yang cukup berkembang di Maluku adalah kerajaan Ternate. Maka tak heran jika Ternate menjadi salah satu kerajaan islam tertua di sejarawan mengungkapkan ternate pertama kali mulai menerima islam sebagai agama dan tradisi pada tahun 1986. Tahun ini disebut sebut sebagai dimulainya islamisasi di Ternate. Bainullah yang menggantikan sultan Zainal Abidin mulai menerapkan hukum dan tradisi islam secara menyeluruh yakni melalui beberapa kebijakan. Diantaranya adalah para kaum lelaki maupun perempuan memakai pakaian islami. Dan kebijakan beliau lainnya adalah memberlakukan perkawinan secara kini sudah menjadi salah satu identitas yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja oleh masyarakat Ternate. Hal ini sangat jelas terlihat dengan berdirinya masjid kesultanan Ternate dan beberapa masjid lainnya. Bukan hanya masjid di kedaton tempat sultan berdiam, juga terdapat peninggalan berupa Al-Quran tertua yang terbuat dari kulit Tradisi dan Budaya Islam di Ternate1. Ritual Kolano Uci Sabea Turunnya Sultan ke MasjidSelanjutnya adalah sebuah ritual wajib yang dilakukan oleh sultan dan masyarakat Ternate yakni ritual kolano uci sabea yang bermakna turunnya sultan ke masjid untuk sholat dan berdoa. Ini adalah pesona religi yang menarik dan berbeda dengan kesultanan lainnya di Indonesia. karena dalam proses ini, sang sultan di tandu dan dikawal masyarakat adat Ternate dari kedaton menuju masjid sultan. Usai melaksanakan sholat teraweh, sultan akan kembali ke kedaton dengan ditandu seperti ketika keberangkatannya ke masjid. Di kedaton, sultan bersama permaisuri akan memanjatkan doa di ruangan khusus tepatnya diatas makam para berdoa, sultan dan permaisuri akan menerima rakyatnya untuk bertemu, bersalaman, bahkan mencium kaki sultan dan permaisuri sebagai tanda kesetiaan. Dalam satu tahun, ritual kolano suci sabea dilaksanakan empat kali. Malam qunut, malam lailatul qadar, serta pada hari raya idul fitri dan idul tradisi dan budaya islam di Ternate ini dilakukan secara turun temurun oleh setiap sultan Ternate hingga Masjid Kesultanan TernateMasjid ini menjadi bukti sejarah bagaimana islam pertama kali masuk di kota Ternate. Masjid sultan Ternate mulai dibangun pada tahun 1606 saat berkuasanya sultan ternate ke 28 mandarsyah. Setelah melewati tiga kepemimpinan, masjid ini baru rampung pada masa pemerintahan sultan hamzah pada tahun sultan Ternate dibangun dengan komposisi bahan yang terbuat dari susunan batu yang direkatkan dengan campuran kulit kayu pohon kalumpa. Dengan model bangunan yang bermodel segi empat dimana atapnya mengadopsi bentuk tumpang limas dan tiap tiap tumpang dipenuhi trali berukir 360 buah sesuai jumlah hari dalam yang juga disebut Sigi Lamo ini juga mempunyai larangan larangan yang tegas yang sampai kini masih dijalankan sesuai dengan amanah sultan dan tradisi. Diantaranya adalah larangan memakai sarung atau wajib menggunakan celana panjang bagi para jamaahnya. Kewajiban memakai penutup kepala atau kopiah, berbagai aturan ini konon berasal dari petuah petuah para leluhur yang juga disebut Doro Bololo, Dalil Tifa, serta Dalil Moro yang hingga kini masih ditaati oleh masyarakat ternate, terutama di lingkungan Asida, Makanan Khas Berbuka PuasaRamadhan di Ternate juga sangat berkesan terutama makanan satu ini yang disajikan ketika buka puasa. Berbekal makanan seperti tepung terigu, gula merah, gula pasir, susu kental manis, mentega, santan secukupnya, garam, fanili perasa dan kenari. Proses memasak asida ini membutuhkan waktu sekitar 3 jam lamanya. Setelah matang, siapkan piring dan oleskan mentega lalu taruh diatas piring dan dibentuk seperti gundukan. Asida pun siap juga Tradisi Bersyukur di Indonesia yang UnikDemikian informasi tentang Tradisi dan Budaya Islam di Ternate yang merupakan pusat penyebaran Islam dimasa perdagangan dulu.
Kerajaan Gapi atau lebih kenamaan disebut Kerajaan Ternate adalah salah satu kesultanan islam di Sulawesi yang berkedudukan di Maluku. Kerajaan ini merupakan salah satu manifetasi sejarah perkembangan islam di Indonesia khususnya di bagian timur. Tidak hanya itu, kerajaan ini juga sangat berpengaruh di masa perlawanan terhadap penjajahan bangsa Eropa. Kondisi ini lantaran Kepulauan Maluku adalah sentra rempah rempah di Indonesia, bahkan dunia. Sejarah Kerajaan TernateLokasi, Letak Geografis, Peta WilayahSilsilah RajaA. Raja Bergelar Kolano1. Baab Mashur Malamo 1257 β 1272 M2. Jamin Qadrat 1277 β 1284 M3. Komala Abu Said 1284 β 1298 M4. Bakuku Kalabata 1298 β 1304 M5. Ngara Malamo Komala 1304 β 1317 M6. Patsaranga Malamo 1317 β 1322 M7. Cili Aiya Sidang Arif Malamo 1322 β 1331 M8. Panji Malamo 1331 β 1332 M9. Syah Alam 1332 β 1343 M10. Tulu Malamo 1343 β 1347 M11. Kie Mabiji Abu Hayat I 1347 β 1350 M12. Ngolo Macahaya 1350 β 1357 MB. Raja Bergelar Sultan18. Zainal Abidin 1486 β 1500 M19. Sultan Bayanullah 1500 β 1522 M20. Hidayatullah 1522 β 1529 M21. Abu Hayat II 1529 β 1533 M22. Tabariji 1533 β 1534 M23. Khairun Jamil 1535 β 1570 M24. Baabullah Datu Syah 1570 β 1583 M25. Said Barakat Syah 1583 β 1606 M26. Mudaffar Syah I 1607 β 1627 M27. Hamzah 1627 β 1648 M28. Mandarsyah 1648 β 1650 M, masa pertama29. Manila 1650 β 1655 M30. Mandarsyah 1655 β 1675 M, masa kedua31. Sibori 1675 β 1689 M48. Iskandar Muhammad Jabir Syah 1929 β 1975 M49. Haji Mudaffar Syah Mudaffar Syah II 1975 β 2015 MKehidupan di Kerajaan TernateA. Kehidupan EkonomiB. Kehidupan Sosial & BudayaC. Kehidupan PolitikMasa KejayaanPenyebab Runtuhnya KerajaanPeninggalan dan Sumber Sejaraha. Istana Sultan Ternateb. Masjid Jami Ternatec. Makam Rajad. Al Quran Tulisan Tangane. Alat Perangf. Benteng Tolukko Istana Kerajaan Ternate tahun 1931 Sumber Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI KIT 90519 vv 10 Kerajaan Ternate berdiri sebagai hasil konsensus para momole yang berkuasa ketika daerah ini mulai banyak didatangi pedangang asing pada permulaan abad ke-13. Para pedagang yang singgah menghadapi ancaman dari perompak di sekitaran Kepulauan Maluku. Keadaan ini mendorong para momole yang berasal dari Toboleu, Tobanga, Tobana dan Tubo mengadakan rembukan untuk mencari solusi atas prakarsa Momole Guna dari Tobona. Pertemuan ini dilakukan tahun 1255 M di Foramadiahi, di lereng bagian selatan Gunung Gamalama. Hasil rundingan para perwakilan empat kampung itu adalah tercetusnya ide untuk pendirian kerajaan yang dilakukan dua tahun setelahnya. Tahun 1257 M, Momole Ciko Bunga yang berasal dari kampung Sampala dinobatkan menjadi Kolano atau raja pertama, dengan dianugerahi gelar Baab Mashur Malamo. Pusat pemerintahan didirikan di Sempala yang berada di pesisir barat dari Pulau Ternate. Momentum bersejarah ini oleh masyarakat lokal disebut dengan Tara No Ate, yang bermakna turun dan merangkulβ. Tara No Ate ini adalah asal mula penggunaan nama Ternate yang dipakai sekarang. Lokasi, Letak Geografis, Peta Wilayah Kerajaan Ternate terletak di pulau Gapi atau sekarang disebut dengan Ternate. Ibukota kerajaan berlokasi di Sempala kemudian dipindahkan ke Foramadiahi. Letak geografis Ternate dinilai sangat strategis. Pasalnya daerah ini terletak di jalur perdagangan penting yang menghubungkan pulau Sulawesi dengan Papua. Kerajaan Ternate berdiri di wilayah dengan topografi pesisir, bukit dan gunung. Salah satunya adalah Gunung Gamalama yang merupakan gung berapi aktif. Wilayah kekuasaan Kerajaan Ternate tidak cukup luas, tetapi sangat berpengaruh. Karena kawasan ini dikelilingi oleh laut sehingga iklim yang ada di Kerajaan Ternate sangat dipengaruhi oleh siklus pergerakan angin laut. Kerajaan Ternate berhasil menguasai seluruh kawasan Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara, dan sebagian daerah di pulau Sulawesi. Silsilah Raja Secara struktural, masyarakat Ternate awalnya memiliki empat perkampungan dengan kepalanya disebut dengan momole. Setelah para momole membentuk aliansi pendiri Kerajaan Ternate, raja pertama yang naik takhta tahun 1257 M sdiseru dengan panggilan kolano. Pertengahan abad ke-15 syariat islam diadopsi penuh oleh Kerajaan Ternate. Hal ini berdampak pada gelar raja yang semula kolano disesuaikan menjadi Sultan. Kolano di struktur pemerintahan Kerajaan Ternate dibantu oleh seorang perdana menteri yang disebut jogugu dan dewan konstitutif kerajaan yang dipanggil fala raha. Di bawahnya terdapat klan bangsawan penopang kerajaan. Para momole pendiri Kerajaan Ternate terdahulu direpresentasikan dalam klan bangsawan ini yang diketuai oleh seorang Kimalaha. Terdiri dari Klan Marasaoli, Tomaito,Tomagola, serta Tamadi. Selain sebagai back-up kerajaan, klan bangsawan ini juga harus mempersiapkan calon raja apabila sultan yang memerintah tidak memiliki penerus. A. Raja Bergelar Kolano 1. Baab Mashur Malamo 1257 β 1272 M Baab Mashur Malamo adalah gelar yang disematkan kepada Momole Ciko Bunga sebagai kolano pertama hasil asese pendiri Kerajaan Ternate. Gelar Baab Mashur Malamo memiliki makna pintu kemasyuran yang besarβ. Masa pemerintahannya belangsung selama 20 tahun. Selama pemerintahannya, Baab Mashur Malamo memutar roda kerajaan dibantu oleh jogugu dan Fala raha. 2. Jamin Qadrat 1277 β 1284 M Jamin Qodrat adalah kolano kedua di Kerajaan Ternate. Jamin Qodrat memiliki beberapa nama panggilan yaitu Kaicil Jamin, Kaicil Poit atau juga bisa disebut dengan Samman. Kaicil adalah istilah yang digunakan untuk menyebut putra mahkota. Jamin Qodrat adalah ayah dari Kaicil Komala Abu Said yang menggantikannya sebagai raja di periode berikutnya. 3. Komala Abu Said 1284 β 1298 M Komala Abu Said juga dikenal dengan Kaicil Siale. Ia adalah kolano ketiga Kerajaan Ternate menggantikan ayahnya. Pada masa kepemimpinan Komala Abu Said terjadi perpindahan pusat pemerintahan Kerajaan Ternate dari Sampala dipindahkan ke Foramadiahi. 4. Bakuku Kalabata 1298 β 1304 M Bakuku atau Kalibata adalah kolano keempat Kerajaan Ternate. Bakuku menerima estafet pemerintahan dari ayahnya, Komala Abu Said, pada tahun 1298 M. Akhir masa kepemimpinannya berada di tahun 1034 M. 5. Ngara Malamo Komala 1304 β 1317 M Raja selanjutnya yang masih menggunakan gelar kolano sebagai penyebutan raja adalah Komala Ngara Malamo. Kolano Ngara Malamo adalah inisiator untuk melakukan ekspansi wilayah. Ia segera Menyusun taktik politik untuk menguasai daerah β daerah di sekitarnya untuk memperbesar dan memperkuat Kerajaan Ternate. 6. Patsaranga Malamo 1317 β 1322 M Kolano Pastsaranga Malamo adalah raja keenam Kerajaan Ternate. Beliau memiliki nama alias yakni Syafiuddin dan Pancaranga Malamo. Patsaranga Malamo memerintah dari tahun 1317 hingga 1322 M. 7. Cili Aiya Sidang Arif Malamo 1322 β 1331 M Pergesekan Kerajaan Ternate dengan Kerajaan Tidore, Kerajaan Jailolo dan Kerajaan Bacan yang memperebutkan hegenomi territorial mulai tampak. Hal ini dipicu dari semakin maraknya pedagang dari Cina, Gujarat, Arab, Jawa dan juga Malaka yang singgah di kawasan pulau Maluku. Rivalitas yang ada semakin berlarut-larut dan menimbulkan konflik. Kolano Sidang Arif Malamo kemudian menginisiasi pertemuan raja raja di Kepulauan Maluku untuk bekerja sama menjalin persekutuan pada tahun 1322 M. Hasil dari pertemuan ini dikenal dengan Persekutan Moti, Motir Verbond, dan Moloku Kie Raha Empat Gunung Malauku yang merujuk pada empat raja yang hadir. Poin penting dari Moloku Kie Raha adalah bentuk kelembagaan di keempat kerajaan diseragamkan untuk meredakan ketegangan. Poin selanjutnya adalah adanya pembagian tugas untuk masing-masing kerajaan. Kerajaan Ternate dalam hal ini diserahi tugas sebagai Alam Makolano. Yaitu pihak yang ditunjuk untuk menjaga dan menjamin stabilitas dagang serta segala urusan yang bersifat keduniaan. Kerajaan Bacan berperan menjadi Dehe Makolano, yaitu pihak dengan tugas menjaga daerah perbatasan. Kerajaan Tidore memiliki peran selaku Kie Makolano. Yakni bagian yang menjaga dan menjamin tingkat keamanan di lingkup dalam negeri. Sedangkan Kerajaan Jailolo mengemban peran sebagai Jiko Makolano. Yaitu bagian persekutuan yang memperkuat benteng pertahanan untuk menangkal serangan maupun ancaman yang berasal dari luar. Setelah Moloku Kie Raha, aktivitas dagang di Kerajaan Ternate semakin menggeliat. Pelabuhan Talangame Bastiong menjadi pusat bandar dagang di Indonesia bagian timur. Selain itu, untuk menunjang kelancaran perdagangan antar bangsa, Kerajaan Ternate membangun pasar yang dilengkapi dengan fasilitas yang layak. 8. Panji Malamo 1331 β 1332 M Panji Malamo adalah kolano yang menggantikan Sidang Arif Malamo. Pada masa pemerintahannya rakyat hidup dengan damai. Bahkan ancaman dari Kerajaan Tidore di bidang militer berkurang secara drastis. 9. Syah Alam 1332 β 1343 M Kolano Syah Alam melakukan penyerangan ke Makian. Hal ini dilakukan untuk menguasai bandar dagang internasional di Makian dan potensi melimpahnya produksi rempah β rempah di daerah ini. 10. Tulu Malamo 1343 β 1347 M Penyerangan yang dilakukan Syah Alam sebelumnya, kemudian ditindaklanjuti oleh Kolano Tulu Malamo dengan pembatalan sepihak haril perjanjian Moloku Kie Raha. Kolano Tulu Malamo bertindak dengan menempatkan Kerajaan Ternate sebagai penguasa teratas. Keputusan ini kemudian menimbulkan rekasi keras dan gencatan senjata kembali digaungkan. 11. Kie Mabiji Abu Hayat I 1347 β 1350 M Kolano Abu Hayat melanjutkan politik ekspansi wilayah dengan berakhirnya perjanjian Moloku Kie Raha. Tetapi masa pemerintahannya tidak berlangsung lama, ia harus gugur dan digantikan oleh Ngolo Macahaya. 12. Ngolo Macahaya 1350 β 1357 M Di era kekuasaan Kolano Ngolo Macahaya, Kerajaan Ternate berhasil menundukkan kawasan Sula. Penaklukan daerah β daerah terus digencarkan. Termasuk di masa pemerintahan Kolano Momole Raja ke-13, 1357 β 1359 M, Kolano Gapi Malamo I Raja ke-14, 1359 β 1372 M, Kolano Gapi Baguna I Raja ke-15, 1372 β 1377 M, dan Kolano Komala Pulu Raja ke-16, 1377 β 1432 M yang berhasil menklukkan wilayah Maluku Tengah, Bum dan Seram Barat. Serta Kolano Marhum Gapi Baguna II Raja ke-17, 1432 β 1486 M yang melakukan penyerangan ke Kerajaan Jailolo. B. Raja Bergelar Sultan 18. Zainal Abidin 1486 β 1500 M Zainal Abidin adalah penerus dari Kolano Marhum. Menurut beberapa catatan sejarah, raja Kerajaan Ternate yang mulai memeluk agama islam pertama kali adalah Kolano Marhum. Peralihan agama kerajaan ini kemudian ditegaskan oleh Zainal Abidin yang mengganti gelar kolano menjadi sultan. Selain itu, Sultan Zainal Abidin juga menambahkan jolobe atau bobato ke dalam struktur pemerintahan Kerajaan Ternate yang terdiri dari para ulama. Sultan Zainal Abidin kemudian menuntut ilmu agama lebih dalam ke Sunan Giri yang berada di pulau Jawa. Ia kemudian mendapat sebutan Sultan Bualawa yang berarti Sultan Cengkih. 19. Sultan Bayanullah 1500 β 1522 M Sultan Bayanullah membuat peraturan wajib menggunakan pakaian islami di lingkungan Kerajaan Ternate. Kemudian mulai dikembangkan pula pembuatan perahu dan senjata untuk memperkuat posisi Kerajaan Ternate. Teknik untuk membuat perahu dan senjata diadaptasi dari orang-orang Arab dan Turki yang singgah di Kerajaan Ternate. Tahun 1506 untuk pertama kalinya Loedwijk de Bartomo atau Ludovico Varthema yang berkebangsaan Portugis berhasil mendarat di Ternate. Kemudian disusul oleh rombongan yang dipimpin Fransisco Serrao tahun 1512. 20. Hidayatullah 1522 β 1529 M Sultan Hidayatullah atau juga dikenal sebagai Sultan Dayalu adalah pewaris takhta kerajaan setelah Sultan Bayanullah. Namun karena masih berusia enam tahun akhirnya kepemimpinan dijalankan oleh ibunya Permaisuri Nukila dan pamannya Pangeran Taruwese. Hal ini memberikan momentum kepada Portugis untuk melancarkan politik adu domba. Permaisuri Nukila mendapat dukungan dari Tidore dihadapkan dengan Pangeran Taruwese yang besekutu dengan Portugis. Setelah memenangkan perang saudara, Portugis justru membunuh Pangeran Taruwese. 21. Abu Hayat II 1529 β 1533 M Sultan Abu Hayat II adalah adik dari Sultan Hidayatullah yang gugur dalam perang saudara melawan Pangeran Taruwese. Sultan Abu Hayat II sangat menentang Portugis yang sering ikut campur urusan Kerajaan Ternate. Akhirnya pada tahun 1531 Sultan Abu Hayat II difitnah melakukan pembunuhan terhadap Gonzalo Pereira, Gubernur Portugis, dan dihukum tangkap. Pada Tahun 1533, Sultan Abu Hayat II dibuang ke Malaka dan wafat di tahun yang sama. 22. Tabariji 1533 β 1534 M Kedudukan Portugis di Kerajaan Ternate Sultan Tabariji adalah saudara tiri dari Sultan Abu Hayat II. Pengaruh Portugis yang sangat kuat di internal Kerajaan Ternate membuatnya dapat melengserkan penguasa yang tidak pro dengannya. Hal ini terjadi pada Sultan Tabariji yang kemudian diasingkan ke daerah Goa, India. Sultan Tabariji dipaksa untuk menyepakati perjanjian penyerahan sebagian wilayah Ternate dan mengubah haluan kerajaan menjadi Kristen. Sebagai imbalan Sultan Tabariji akan dikembalikan ke Ternate dan mendapatkan kembali kedudukannya. Namun, pada perjalanan menuju Ternate Sultan Tabariji wafat. Oleh karenanya siasat Portugis ini menjadi bias, dan Khariun Jamil berkuasa untuk naik takhta sebagai sultan Kerajaan Ternate. 23. Khairun Jamil 1535 β 1570 M Kedudukan Portugis di Kerajaan Ternate Sultan Khairun mengumukan perang mengusir Portugis dari Ternate. Portugis yang sudah mempunyai benteng pertahanan dan titik kekuatan hampir di seluruh Maluku menjadi sangat kuat. Memanfaatkan Aliansi Tiga, yang terdiri dari Ternate, Demak dan Aceh, Kerajaan Ternate meneror posisi Portugis di selat Malaka. Hal ini berakibat pasukan Portugis di Maluku tidak bisa mendapatkan bala bantuan. Kemudian Gubernur Portugis bernama Lopez de Mesquita melakukan intrik jahat dengan membunuh Sultan Khairun saat melakukan perundingan. 24. Baabullah Datu Syah 1570 β 1583 M Relief di Tugu Cengkeh Menceritakan Keberhasilan Pengusian Portugis dari Ternate. Sumber Terbunuhnya Sultan Khairun semakin melecutkan semangat penduduk Ternate untuk mengusir Portugis. Kerajaan Ternate dibantu seluruh Maluku kemudian berhasil menggempur pos pertahanan Portugal di wilayah Indonesia bagian Timur. Akhirnya kemenangan berpihak ke Kerajaan Ternate setelah Portugis berhasil dipukul keluar dari Ternate tahun 1575. Sultan Baabullah berhasil membawa masa kejayaan Kerajaan Ternate dan mendapat julukan penguasa 72 pulau. 25. Said Barakat Syah 1583 β 1606 M Kerajaan Ternate menjadi semakin lemah sepeninggalan Sultan Baabullah. Serangan Spayol yang bersekutu dengan Portugis terjadi 1580. Aliansi dengan Mindanao ternyata tidak cukup untuk menangkal serangan dari Spanyol. Sultan Said Barakati Syah ditawan oleh pihak Spanyol kemudiang dilakukan politik buang ke Manila. 26. Mudaffar Syah I 1607 β 1627 M Kekalahan yang terus dialami Kerajaan Ternate membuat Sultan Mudaffar Syah I meminta bantuan ke Belanda. Atas bantuan Belanda, Spayol dapat diusir dari wilayah Ternate. Namun hal ini mendatangkan polemik lain, yaitu penandatanganan kontrak yang menyetujui Belanda atas nama VOC memonopoli perdagangan rempah rempah di Maluku. Belanda juga meminta hak untuk memdirikan benteng pertahanan bernama Oranje di wilayah Ternate pada tahun 1067. 27. Hamzah 1627 β 1648 M Sultan Hamzah pada masa pemerintahannya menginisiasi pembangunan masjid jamiβ Kerajaan Ternate. Masjid ini dibangun sebagai pusat kegiatan agama penduduk Kerajaan Ternate. 28. Mandarsyah 1648 β 1650 M, masa pertama Bangsawan Ternate tahun 1650 meletuskan pemberontakan karena Sultan Mandarsyah dianggap terlalu berpihak kepada Belanda. Pangeran Saidi panglima tertinggi Kerajaan Ternate, Pangeran Majira Raja Ambon dan Pangeran Kalamata Adik Sultan Mandarsyah bersekutu melakukan kudeta untuk menggulingkan kepemimpinan. 29. Manila 1650 β 1655 M Sultan Manila dinobatkan menjadi raja Kerajaan Ternate menggantikan Sultan Mandarsyah. Namun pada tahun 1655 M, Belanda dibawah kepemimpinan Laksamana Arnold de Vlamingh van Oudshoorn memberikan bala bantuan untuk melemahkan aliansi pemberontak dan memulihkan kekuasaan Sultan Mandarsyah. Pangeran Saidi dibunuh dengan keji, sedangkan Pangeran Kalamata dan Pangeran Majira diasingkan oleh Belanda. 30. Mandarsyah 1655 β 1675 M, masa kedua Sultan Mandarsyah kembali menduduki posisi raja Kerajaan Ternate pada tahun 1655. Selama periode kedua kepemimpinannya ini Ia tetap tidak bisa melepaskan ketergantungan dari tangan VOC. Hal ini membuat keputusan yang dikeluarkannya bersifat ambivalen. Kontradiksi dari sikap Sultan Mandarsyah ini kemudian memicu pemberontakan yang dilancarkan oleh putranya, Sibori Amsterdam. 31. Sibori 1675 β 1689 M Sultan Muhammad Nurul Islam atau Sultan Sibori Amsterdam setelah berhasil memberontak ke ayahnya naik takhta pada tahun 1675. Daerah strategis sudah dikuasai oleh Belanda, maka Sultan Sibori terpaksa melipir ke Jailolo. Ia meneruskan perjuangan untuk melemahkan kekuasaan Belanda atas kepulauan Maluku. Namun karena himpitan Belanda semakin kuat, Sultan Sibori terpaksa menandatangani kontrak perjanjian tanggal 7 Juli 1683 untuk menjadikan Kerajaan Ternate sebagai dependen Belanda. Kedaulatan Kerajaan Ternate pun runtuh. Meski begitu bagunan fisik kerajaan tetap dipertahankan dan garis keturunan raja tetap menjalankan roda kepemimpinan di bawah naungan Belanda. Raja raja tersebut terdiri dari Sultan Said Fatahullah Sultan ke-33, 1689 β 1714 M, Sultan Amir Iskandar Zulkarnain Syaifuddin Sultan ke-34, 1714 β 1751M, Sultan Ayan Syah Sultan ke-35, 1751 β 1754 M, Sultan Syah Mardan Sultan ke-36, 1755 β 1763 M, Sultan Jalaluddin Sultan ke-37, 1763 β 1774 M, Sultan Harunsyah Sultan ke-38, 1774 β 1781 M, Sultan Achral Sultan ke-39, 1781 β 1796 M, Sultan Muhammad Yasin Sultan ke-40, 1796 β 1801 M, Sultan Muhammad Ali Sultan ke-41, 1807 β 1821 M, Sultan Muhammad Sarmoli Sultan ke-42, 1821 β 1823 M, Sultan Muhammad Zain Sultan ke-43, 1823 β 1859 M, Sultan Muhammad Arsyad Sultan ke-44, 1859 β 1876 M, Sultan Ayanhar Sultan ke-45, 1879 β 1900 M, dan Sultan Muhammad Ilham Sultan ke-46, 1900 β 1902 M. 47. Haji Muhammad Usman Syah 1902 β 1915 M Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI KIT 270/54 Setelah begitu lama Kerajaan Ternate berada di bawah kendali Belanda, akhirnya Sultan Haji Muhammad Usman Syah naik takhta dan mulai Menyusun kembali pergerakan untuk melawan Belanda. Usaha Sultan Haji Muhammad Usman Syah diawali dari rakyat Banggai dengan Hairuddin Tomagola sebagai panglima. Tetapi usaha penyerangan ini menuai kegagalan. Walaupun begitu Kapita Banau yang membawahi rakyat Jailolo, Tuwada, Tudowongi, dan Kao sukses membuat kekacauan yang merugikan Belanda. Meskipun begitu, Belanda dengan kelengkapan militer yang lebih modern membuatnya dapat membalik keadaan. Kapita Banau ditangkap lalu dibunuh. Sedangkan Sultan Haji Muhammad Usman Syah dilengserkan dari jabatan Sultan Kerajaan Ternate lalu tahun 1915 dikirim ke Bandung untuk diasingkan. 48. Iskandar Muhammad Jabir Syah 1929 β 1975 M Pertemuan Sultan Iskandar Muhammad Jabir Syah dari Kerajaan Ternate dengan Dr. Van Mook di Australia. Sumber Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI, NIGIS No. A 12792 Kerajaan Ternate mengalami kekosongan kepemimpinan selama 14 tahun sebelum Sultan Iskandar Muhammad Jabir Syah dinobatkan sebagai Sultan pada tahun 1929 M. Awalnya Pemerintah Hindia Belanda berniat untuk menghancurkan Kerajaan Ternate, namun mempertimbangkan perlawanan yang akan diterima dari masyarakat pendukungnya akhirnya hal tersebut tidak dilakukan. 49. Haji Mudaffar Syah Mudaffar Syah II 1975 β 2015 M Dewan Bobato 18 melalukan sidang untuk menentukan raja pengganti dari Sultan Iskandar Muhammad Jabir Syah. Hasilnya kemudian ditunjuk Mudaffar Syah sebagai sultan di Kerajaan Ternate. Karena gejolak Kerajaan Ternate yang masih terjadi, Mudaffar Syah sempat menolak, namun akhirnya menerima dan dinobatkan menjadi sultan. Sultan Mudaffar mempunyai misi untuk membentuk rakyat Ternate yang agamis. Upayanya terlihat dari adanya Jumat Suci di wilayah Ternate. Jumat Suci dilakukan dengan menghentikan semua kegiatan, dan menggantinya dengan membaca Al Quran. Setelah Sultan Mudaffar Syah wafat pada tahun 2015, eksistensi Kerajaan Ternate dinyatakan selesai karena tidak ada lagi penerus yang bisa melanjutkan tampuk kepemimpinan kerajaan. Kehidupan di Kerajaan Ternate A. Kehidupan Ekonomi Ilustrasi kegiatan perdagangan rempah-rempah di Pelabuhan Ternate. Sumber Roda penggerak perekonomian di Kerajaan Ternate adalah pertanian, perdagangan dan sebagian kecil perikanan. Hasil pertanian utama yang dihasilkan dan menjadi daya tarik utama bangsa Eropa adalah rempah-rempah lada, cengkeh dan pala. Perdagangan rempah-rempah yang menggeliat menjadikan Kerajaan Ternate menjadi makmur dan mengalami perkembangan kesejahteraan yang signifikan. B. Kehidupan Sosial & Budaya Korp Musik Kerajaan Ternate Tahun 1893. Sumber Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI KIT 217/ 50 Penari Kerajaan Ternate 1930. Sumber Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI KIT 1095/79 Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Ternate terlihat dari interaksi masyarakat lokal dengan pedagang asing yang singgah di kawasan ini. Berbagai pengaruh terjadi termasuk penyebaran agama Islam yang dibawa oleh pedagang dari Arab dan juga adama Katolik yang disebarkan oleh Fransiscus Xaverius, seorang misionaris berkebangsaan portugis. Setelah Islam menjadi agama utama di Ternate, setelah kedatangan bangsa Portugis agama Katolik mulai berkembang di sebagian wilayah Ternate, Ambon dan pulau Halmahera. Sementara itu, kehidupan budaya adanya Kerajaan Ternate memberikan pengaruh terhadap meningkatnya penggunaan Bahasa Ternate di Indonesia bagian timur khususnya penduduk yang mendiami daerah Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Timur, Maluku dan sebagian Papua. Meskipun menggunakan dialek yang berbeda tetapi bahasa yang dinomorsatukan adalah bahasa ternate. Selain itu, di Kerajaan Ternate sudah mengenal musik dan tari-tarian. Hal ini terbukti dari adanya Korp. musik dan tari-tarian untuk penyambutan ketika ada tamu di Kerajaan Ternate. C. Kehidupan Politik Prajurit Kerajaan Ternate. Sumber Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI KIT 453/86 Prajurit Kerajaan Ternate Tahun 1893. Sumber Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI KIT 1095/ 85 Kehidupan politik Kerajaan Ternate bertumpu pada filosofi Jou Sengofa Ngare. Filosofi ini mewajibkan sultan menjadi ujung tombak dari keselamatan dan kesejahteraan segenap rakyat Kerajaan Ternate. Sultan diposisikan sebagai khalifah sehingga perlakuan dzolim adalah larangan keras, termasuk kepada rakyatnya. Apabila Sultan melakukan pelanggaran maka rakyat berhak melayangkan kritik melalui dean legu kedaton. Kerajaan Ternate mengalami gejolak politik yang hebat. Ancaman dan perjuangan tidak hanya berasal dari kerajaan lain tetapi juga dari kolonial bangsa asing. Setelah berhasil mengentaskan diri dari perang saudara, Kerajaan Ternate masih harus terus berjuang untuk mengusir penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Portugis, Spanyol, Belanda dan bahkan juga Jepang. Keberhasilan Kerajaan Ternate memukul mundur Portugis di bawah pimpinan Sultan Baabullah adalah salah satu bukti bahwa Kerajaan Ternate menduduki posisi penting dalam sejarah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Masa Kejayaan Lambang Kerajaan Ternate. Sumber Kerajaan Ternate berada di puncak kejayaan pada abad ke-16 akhir. Tepatnya ketika Kerajaan Ternate dipimpin oleh Sultan Baabullah. Bukti kejayaannya terletak pada wilayah kekuasaannya yang luas. Bahkan Sultan Baabullah mendapat julukan Sultan 72 Pulau karena berhasil menundukkan kepulauan sebanyak itu. Daerah yang dikuasai Kerajaan Ternate membentang dari wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Timur dan semua pulau pulau kecil yang terhampar di sebelah barat hingga mencapai kepulauan Marshall. Wilayah Filipina bagian utara berhasil diduduki sampai kepulauan Kai. Pulau Nusa Tenggara juga berhasil dikuasai hingga bagian selatan. Sultan Baabullah kemudian menunjuk Sangaji sebagai wakil Kerajaan Ternate yang ditempatkan di masing-masing wilayah kekuasaan. Penyebab Runtuhnya Kerajaan Ilustrasi Kekuasaan Belanda di Kerajaan Ternate. Sumber Kerajaan Ternate runtuh akibat adanya adu domba yang digerakkan oleh koalisi Portugis dan Spanyol. Untuk menangkal gempuran yang terjadi secara terus menerus, akhirnya Sultan Mudaffar Syah I menjalankan politik aliansi dengan Pemerintah Hindia Belanda. Bantuan yang diberikan kemudian harus dibayar mahal karena setelahnya Kerajaan Ternate berada di bawah pengaruh Belanda. Disebabkan tekanan Belanda semakin mendesak, Sultan Sibori Amsterdam terpaksa menandatangani sebuah perjanjian yang menegaskan Kerajaan Ternate sebagai dependen Belanda pada tanggal 7 Juli 1683. Sejak saat itu kedaulatan di Kerajaan Ternate pun runtuh. Silsilah raja di Kerajaan Ternate tetap dilanjutkan meskipun berada di bawah naungan Belanda. Saat Indonesia memperoleh kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Kerajaan Ternate tunduk dan meleburkan diri menjadi bagian dari NKRI. Meskipun begitu hingga pada tahun 2015 Kerajaan Ternate masih memiliki sultan yang aktif. Setelah sultan terakhir dari Kerajaan Ternate wafat dan tidak ada keturunan yang mumpuni untuk menggantikan, akhirnya posisi Kerajaan Ternate saat ini digunakan sebagai simbol adat dan lambing kejayaan Islam di Indonesia bagian timur. Peninggalan dan Sumber Sejarah a. Istana Sultan Ternate Istana Sultan Ternate berlokasi di pesisir daerah Soa-Sio, Kelurahan Letter C, Ternate, Provinsi Maluku Utara. Istana Sultan Ternate menjadi salah satu benda cagar budaya Indonesia sejak 7 Desember 1976. Kerajaan Ternate diserahkan kepada Pemerintah Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk dilakukan pemugaran pada masa pemerintahan Sultan Mudafar Syah. Bangunan istana menghadap ke arah laut dan dikelilingi dinding dengan ketinggian kurang lebih 3 meter. Desain interiornya dipenuhi dengan hiasan yang terbuat dari emas. Di dalam istana ini ada beberapa benda tinggalan kerajaan seperti mahkota raja, perhiasan emas, juga baju kebesaran raja yang disulam menggunakan benang emas. Komplek perumahan anggota kerajaan masih berada di sekitar bangunan istana. Di lokasi yang sama dengan istana terdapat makam raja terdahulu dan masjid jami Kerajaan Ternate. b. Masjid Jami Ternate Masjid Jami Kerajaan Ternate juga dikenal dengan nama Sigi Lamo. Pembangunannya dilakukan saat berkuasanya sultan ke-28 Kerajaan Ternate. Arsitektur Masjid berbentuk limah dengan 6 undakan. Beberapa hal unik yang melekat dengan Masjid Jami Kerajaan Ternate antara lain adalah kewajiban mengenakan kopiah saat memasuki masjid, dan juga larangan menggunakan sarung. Sehingga, jika ingin beribadah di masjid ini hendaknya menggunakan celana panjang. c. Makam Raja Makam Sultan Baabullah terletak di pucak bukit Foramadiahi. Akses menuju makam dilalui dengan pendakian di kaki gunung Gamalama kurang lebih 1 km. Jalananya dibangun tembok dengan pohon cengkih dan pala berada di sisi kiri dan kanan jalan. d. Al Quran Tulisan Tangan Al Quran tulis tangan peninggalan Kerajaan Ternate adalah Al Quran tertua di Asia Tenggara. Penulisannya dilakukan di pelepah kulit kayu menggunakan tinta berwarna hitam dan merah. Saat ini Al Quran tulis tangan ini tersimpan di kediaman Saleh Panggo Gogo, di Alor Besar, Nusa Tenggara Timur. Hal ini menjadi bukti penyebaran islam di kepulauan Alor yang dilakukan oleh Kerajaan Ternate tahun 1519. e. Alat Perang Alat perang Kerajaan Ternate yang digunakan di masa lalu masih tersimpan dengan apik di dalam bangunan Istana. Jenis alat perang tersebut terdiri dari tombak dengan ujungnya berbentuk lancip yang terbuat dari logam, tongkat kebesaran pasukan kerajaan, pedang, pakaian perang dan lain lain. f. Benteng Tolukko Benteng Tolukko adalah benteng buatan bangsa Portugis ketika berada di Ternate dengan mengantongi izin dari Sultan Kerajaan Ternate. Benteng ini dibangun tahun 1540 atas prakarsa Panglima Fransisco Serao di sepanjang daerah Sangadji, Ternate Utara, Kota Ternate. Konstruksinya terbuat dari batu kali, pecahan batu bata dan batu karang yang dicampur dengan pasir dan batuan kapur sebagai perekat. Demikian ini pemaparan mendetail tentang Kerajaan Ternate. Semoga ulasan ini semakin membuat kita open minded terhadap hikmah rasional yang bisa diambil dari cerita sejarah. Kerajaan Ternate adalah semangat dari masa lalu yang menggemakan antikolonialisme dengan gigih. Kekuatan positif yang hebat ini membuktikkan bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia sudah tercetak menjadi bangsa yang kuat dan tangguh. Mudah-mudahan spirit ini bisa kita implementasikan untuk membangun Indonesia yang lebih keren.
Islam masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan pada abad ke-7. Sumber Situs Resmi NUIslam diyakini masuk ke nusantara pada abad ke-7 melalui perdagangan. Islam kemudian semakin berkembang sejak munculnya kerajaan-kerajaan satu wilayah yang mengalami perkembangan agama Islam secara pesat adalah Maluku. Terdapat dua kerajaan yang menjadi pilar peradaban Islam di Maluku, yakni Kerajaan Ternate dan Kerajaan memahami perkembangan Islam di kedua kerajaan ini, simak penjelasan di bawah TernateMenurut Ahmad M Sewang dan Wahyuddin dalam buku yang berjudul Sejarah Islam Indonesia, kerajaan Ternate merupakan salah satu kerajaan Islam yang besar di Maluku, selain kerajaan Tidore, Bacan dan Ternate didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada tahun 1257 M. Kerajaan ini berperan penting dalam kejayaan Nusantara di kawasan Timur, mulai dari abad ke-1 hingga abad ke-17. Hal ini karena wilayah Ternate yang terkenal dengan kekayaan pertama dari kerajaan Ternate adalah Momole Ciko pemimpin Sampalu terpilih dan diangkat sebagai kolano raja pertama dengan gelar Baab Mashur Malamo 1257-1272 M.Pada awal masa pemerintahan, kerajaan Ternate dipimpin oleh para kolano raja hingga akhirnya pada abad ke-15, kerajaan Ternate mulai dipimpin oleh seorang beberapa sultan yang pernah memimpin Kerajaan Ternate, yakniSetelah meninggalnya Kolano Mahrum pada 1486, sang anak Zainal Abidin naik ke kursi kerajaan. Zainal merupakan pemimpin pertama Kerajaan Ternate yang menggantikan gelar kolano menjadi Abidin adalah murid Sunan Ampel dan jebolan sekolah agama Islam Gresik asuhan Sunan Ampel. Ada beberapa kebijakan dari Sultan Zainal Abidin ketika memimpin kerajaan Ternate, yakniMenjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan dan sejak itu menjadi lembaga kesultanan yang baru, yaitu Jolebe atau Bobato seorang sultan sebagai pembina agama Islam atau βAmir ad-Dinβ yang membawai Babullah merupakan salah satu sultan yang pernah memimpin kerajaan Ternate. Sumber KemdikbudSultan Bayanullah merupakan putra dari Sultan Zainal Abidin. Pada masa pemerintahannya, corak keislaman dari kerajaan Ternate mulai ini disebabkan oleh kebijakan yang dikeluarkan oleh Sultan Bayanullah, di antaranyaLarangan kumpul kebo dan diwajibkan berpakaian secara pantas dan memakai cidaku cawat bagi laki-laki Khairun merupakan sultan yang pernah memimpin perlawanan rakyat Ternate terhadap bangsa Portugis. Namun, akhirnya kedua belah pihak bersepakat untuk melakukan ia dikhianati oleh orang Portugis yaitu Lopez de Mesquita, dengan cara dibunuh dan dilempar ke meneruskan perjuangan ayahnya Sultan Khairun, Sultan Babullah memilih untuk memimpin pasukan rakyat Ternate untuk mengusir bangsa Portugis. Usaha tersebut tidak sia-sia. Portugis berhasil diusir oleh Sultan TidoreKerajaan Tidore merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar di Nusantara. Kerajaan ini didirikan oleh saudara dari pendiri kerajaan Ternate Mayshur Malamo, yakni Sahajati atau Raja dari buku Sejarah Umat Islam karya Hamka, Raja Ciriliyati adalah orang pertama Tidore yang masuk agama Islam. Setelah masuk Islam, ia diberi gelar Sultan juga mengeluarkan beberapa kebijakan yang mendukung proses percepatan penyebaran agama Islam. Salah satunya dengan membangun madrasah-madrasah dan masjid-masjid sebagai sarana pendidikan dan ibadah satu peninggalan kerajaan Tidore yang menjadi tanda peradaban Islam adalah Masjid Tidore. Sumber KemdikbudSelain Raja Ciriliyati, ada beberapa raja yang pernah memimpin kerajaan Tidore, yakni1. Sultan Nuku JamaluddinSultan Nuku atau Jamaluddin merupakan salah satu sultan yang membawa kejayaan kepada rakyat Tidore. Ia bahkan pernah memimpin perlawanan rakyat Tidore yang melawan Sultan Nuku dan keluarga ditangkap oleh koloni Belanda dan dibawa ke Batavia hingga akhirnya dibuang ke Sri Sultan Nuku Jamaluddin, sultan lain yang berhasil memajukan kerajaan Tidore adalah Sultan Kaicil Nuku. Ia bahkan diberi gelar Sri Maha Tuan Sultan Syaidul Jihad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad El Mabus Kaicil Paparangan Jou Kaicil Nuku memberikan beberapa kebijakan politik di masa kepemimpinannya, yaituMempersatukan seluruh kesultananTidore sebagai suatu kedaulatan yang kembali empat pilar kekuasaan Kesultanan sebuah persekutuan antara keempat kesultanan Maluku. Mengenyahkan kekuasaan dan penjajahan asing dari yang mendirikan Kerajaan Ternate?Siapa raja pertama Kerajaan Ternate?Sebutkan salah satu kebijakan Sultan Zainal Abidin di Kerajaan Ternate!
Jakarta - Ternate merupakan kota terbesar di Maluku Utara. Namanya berasal dari ungkapan Tarinata, yang artinya keras dan kasar. Hal itu menjadi gambaran karakter penduduk Ternate. Sebelum menjadi kota administratif, Ternate lebih dulu dikenal sebagai kerajaan Kesultanan Gapi, yakni kerajaan Islam pertama yang ada di Maluku. Meski tergolong kerajaan kecil, pengaruhnya besar di sekitar kawasan timur Indonesia. Jahe hingga Kapulaga, 5 Rempah Alami Ini Ampuh Redakan Peradangan Pembuat Jam Tangan Mandiri di China Membuat Arloji Rp1 Miliar dan Diakui Dunia Mengaku Sudah Bayar Denda, Sejumlah Pria Rusak Fasilitas di Kamar Hotel Tanah Ternate yang memiliki luaas kilometer persegi itu dikenal sangat subur untuk ditanami rempah-rempah, seperti pala dan cengkeh. Hasilnya pun sangat melimpah hingga selama berabad-abad, Ternate dijadikan sebagai pusat benteng Portugis dan VOC Belanda untuk perdagangan rempah-rempah. Apa lagi hal menarik lain yang dimiliki Ternate? merangkum enam fakta di antaranya yang dikutip dari berbagai sumber, Jumat, 12 Maret 2021. 1. Pulau Rempah Ternate sangat strategis dan penting dalam dunia perdagangan karena di situlah rempah-rempah dihasilkan. Ternate sampai dijuluki sebagai The Spice Island karena merupakan penghasil rempah-rempah terbesar. Rempah-rempah adalah komoditas utama perdagangan warga setempat. Pada pertengahan abad ke-15, bangsa Eropa, seperti Portugis, Spanyol, dan Belanda, berloma-lomba menguasi Ternate, Maluku Utara, karena tertarik dengan keberadaan rempah-rempah tersebut. Selain itu, banyak juga pedagang Jawa, Melayu, Arab, dan China yang datang ke Maluku khususnya Ternate untuk membeli rempah-rempah. Kini, Ternate menjadi destinasi wisata rempah-rempah yang diimplementasikan dalam berbagai progam, seperti penataan kawasan cengkeh afo. 2. Kota Seribu Benteng Selain rempah-rempah, banyaknya jumlah benteng menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Benteng-benteng yang ada di Ternate dibangun untuk mengamankan aktivitas perdagangan rempah-rempah yang dilakukan Portugis, Belanda, dan Spanyol pada zaman dulu. Salah satu yang populer adalah Benteng Kalamata, yang diambil darii nama Pangeran Kaicil Kalamata, kakak Sultan Ternate Madarsyah. Benteng yang dikenal pula dengan nama Benteng Kayu Merah itu berada di Kelurahan Kayu Merah, Ternate Selatan. Pada saat dibangun Portugis, benteng itu dinamai Santa Lucia. Benteng Kalamata berdiri menghadap ke selat yang menghubungkan Ternate dan Tidore. Selanjutnya, Benteng Oranje yang dibangun pada 1607 oleh Cornelis Matclief de Jonge. Benteng itu berasal dari bekas benteng tua yang dibangun Portugis. Benteng Oranje sempat menjadi pusat pemerintahan tertinggi Hindia Belanda. Kemampuan benteng tersebut untuk mengusir lawan yang menyerang melalui laut maupun daratan bisa dilihat dari keberadaan sejumlah meriam yang masih tersisa di sana. Saksikan Video Pilihan Berikut IniGempa berkekuatan magnitudo 5,8 mengguncang Ternate Maluku Utara hari Kamis 16/4. Gempa tidak berpotensi tsunami, belum ada laporan kerusakan akibat gempa tersebut.
ο»ΏSemua hal yang dapat dilakukanBar & KlubBar KaraokeCocok untuk PasanganTerjangkauCocok untuk Anak-AnakCocok untuk Kelompok BesarLokasi bulan maduCocok untuk Penggemar Aktivitas EkstremTempat yang Belum DikenalMasuk GratisBerjiwa petualangBagus Saat Hujan
kehidupan malam di ternate