Kesempatanini kita akan membahas mengenai degradasi, penjelasan mengenai degradasi ini juga akan diuraikan selengkapnya dibawah ini : Fakultas ekonomi universitas negeri semarang 2015 soal 1. dekha santany shin hye lovers idup adalah Gairah" saya Lingkungan tempat beinteraksi antara makhluk manusia dengan habitatnya 16. Pertanyaan tentang lingkungan pendidikan. KonsepPendidikan Dalam Al Quran dakwatuna com pertanyaan tentang tujuan pendidikan dalam al quran, 25 02 2019 Pendidikan merupakan satu dari pembahasan pembahasan yang ada pada Al Quran Maka pas jika ayat yang pertama kali Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw Adalah perintah untuk membaca Di samping itu dalam Al Quran juga banyak sekali 0 BAGIKAN. PENDIDIKAN adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Islam sendiri sudah banyak membeberkan ayat Al-Quran tentang pendidikan. 2 Para pendidik memberikan pemahaman kepada seluruh kaum muslimin tentang sarana-sarana tarbiyah Islam. 3- Kerjasama antara para pendidik dengan lembaga-lembaga, tokoh dan pakar di tengah masyarakat untuk mendirikan lembaga pendidikan yang diawasi dan diselenggarakan oleh para pendidik robbany. Olehkarena itu, agar perjalanan itu layak untuk amal baik, perjalanan itu harus sesuai dengan adab bepergian menurut islam. Berikut ini panduan etika atau adab bepergian bagi seluruh umat Islam. Sebagai pedoman, berikut ini rangkuman tata krama sebelum bepergian, saat dalam perjalanan, sampai selesai: 1. Menjelang Keberangkatan. a. Shalat Safar. tentangdakwah, tulisan ini membahas hakikat dan tujuan dakwah Islam. Kata kunci: Dakwah, Kewajiban, Hakikat, Tujuan, Rahmatan lil alamin. PENDAHULUAN Dakwah adalah seruan atau ajakan kepada kesadaran atau mengubah situasi ke situasi yang lebih baik dan sempurna menurut ajaran Islam baik terhadap pribadi maupun terhadap masyarakat. Pada SID4. 1. Apa yang menjadi obyek kajian ilmu pendidikan ? Yang menjadi objek kajian ilmu pendidikan adalah pertumbuhan dan perkembangan anak didik dalam dunia pendidikan mulai dari anak usia dini hingga dewasa. Meliputi tahap - tahap sesuai perkembangan anak didik , kemampuan yang dimiliki anak didik, serta pengembangan kecerdasan jamak hingga permasalahan - permasalahan yang di alami dalam melakukan kegiatan pendidikan. 2. Apa yang dimaksud transfer of knowledge, transfer of value dan transfer of culture? bagaimana hubungan ketiganya? >Transfer of knowledge pendidikan merupakan proses yang di berikan dalam bentuk ilmu pengetahuan. >Transfer of Value pendidikan yang dilakukan dengan cara pemberian nilai terhadap anak didik, dimana ilmu yang mereka miliki itu sangatlah berharga. >Transfer of Culture pendidikan yang dilakukan atau yang di sampaikan memiliki unsur budaya, sehingga anak didik bisa melestarikan kebudayaan. Dengan tujuan agar kebudayaan itu tidak akan hilang di telan masa. Jadi, hubungan antar ketiganya yaitu sama – sama suatu proses pendidikan yang memiliki tujuan agar dapat mengubah perilaku individu atau kelompok menjadi manusia yang seutuhnya. Utuh yang di maksud itu, manusia yang memiliki wawasan luas. 3. Apa maksud dari pernyataan Pendidikan Merupakan Kebutuhan yang Kodrati bagi Manusia? Maksudnya bahwa pendidikan itu merupakan suatu kebutuhan pokok yang dibutuhkan manusia untuk hidupnya kedepan. Tujuan pendidikan bagi manusia itu bisa digunakan sebagai tolak ukur batas kemampuan yang dimilikinya. Beberapa hari yang lalu, saya dikejutkan oleh pertanyaan dari seseorang yang rupanya rajin membaca tulisan pendek dan sederhana yang sehari-hari saya tulis dan kemudian saya posting melalui website atau facebook. Pertanyaan itu sebenarnya sederhana saja, ialah apakah di madrasah, pondok pesantren, dan perguruan tinggi Islam tidak diajari tentang Islam. Pertanyaan tersebut memang bisa dimaknai dari berbagai sudut atau juga kepentingan. Misalnya,pertanyaan itu merupakan kritik tajam terhadap pelaksanaan pendidikan Islam selama ini, atau juga sebaliknya, memang yang bersangkutan benar-benar belum mengerti tentang pendidikan Islam itu sendiri. Selain itu masih ada makna lainnya, misalnya, penanya kecewa terhadap hasil pendidikan islam selama ini, belum sesuai dengan apa yang diinginkan. Dan tentu, masih banyak lagi interpretasi lainnya. Penanya mengaku bahwa dirinya bukan seorang muslim, tetapi rajin membaca tulisan saya melalui facebook pada setiap ada kesempatan. Melalui bacaan itu, ia mengaku bahwa prinsip-prinsip hidup yang dijalani sehari-hari terasa sama dengan nilai-nilai Islam yang saya jelaskan lewat tulisan-tulisan itu. Seharusnya dengan prinsip-prinsip hidup sebagaimana yang ditangkap dari ajaran Islam, orang akan mengalami kemajuan. Akan tetapi, ia merasa aneh tatkala melihat umat Islam tidak tampak maju, baik dari aspek pendidikannya, ekonominya, pengembangan ilmu pengetahuan, politik, dan apalagi teknologinya. Umat Islam menurut hasil pengamatannya di mana-mana, selalu tertinggal. Menurut penglihatannya belum ada karya umat Islam yang bisa dibanggakan, kecuali jumlah orang yang sudah menunaikan ibadah haji. Keadaan dinilai menjadi lebih parah lagi, tatkala ia melihat masyarakat arab pada umumnya. Sekalipun bangsa itu kaya minyak, tetapi tidak ada kemajuan yang bisa dibanggakan. Padahal, dengan ajaran Islam sebagaimana yang ia baca melalui tulisan-tulisan tersebut, seharusnya umat Islam sangat maju. Islam mengajarkan agar umatnya mencintai ilmu pengetahuan, selalu meningkatkan kualitas hidup, memegang prinsip kejujuran, keadilan, kebersamaan, tolong menolong, menjalankan kegiatan ritual, dan juga keharusan bekerja secara profesional atau dalam bahasa Islam disebut beramal saleh. Dengan ajaran seperti itu maka seharusnya umat Islam, tidak terkecuali bangsa-bangsa Arab menjadi pelopor kemajuan peradaban umat manusia. Di tengah suasana bingung tidak mendapatkan sendiri jawaban yang jelas itu, ia bertanya, lewat facebook, apakah di madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi agama tidak diajarkan tentang Islam, yaitu sebagai ajaran yang seharusnya membawa kemajuan itu. Sudah barang tentu, saya menjawab secukupnya. Tetapi pertanyaan itu seolah-olah menghentak alam kesadaran saya, sehingga saya juga bertanya di dalam hati, jangan-jangan pendidikan Islam yang selama ini diberikan dari generasi ke generasi, sebenarnya memang belum mengenai sasaran yang sebenarnya, yaitu membentuk karakter, watak atau pribadi unggul sebagaimana yang diajarkan oleh Islam itu sendiri. Membaca pertanyaan lewat facebook tersebut, saya justru teringat pesan singkat saya, kepada semua warga kampus UIN Malang yang saya abadikan pada prasasti yang ada di depan samping kantor pusat. Tulisan itu, saya ambil dari al Qur'an yang berbunyi kunuu ulinnuha, kunnu ulil abshar, kunuu ulil albaab, wa jaahiduu fillah haqqa jihadihi. Umpama pendidikan Islam benar-benar mampu menjadikan generasi memiliki otak yang cerdas, pandangan mata dan telinga yang tajam, menjadikan hati lembut dan mau berjuang di jalan Allah dengan sebenar-benarnya perjuangan, maka umat Islam akan maju, mengungguli umat lainnya. Atas pertanyaan tersebut, sekalipun disampaikan oleh orang yang mengaku bukan sebagai penganut Islam, saya merenung dan berpikir, bahwa jangan-jangan pendidikan Islam yang dijalankan selama ini memang masih harus diformulasi kembali. Seharusnya, dengan al Qur'an dan hadits nabi, umat Islam menjadi cerdas, tajam penglihatan dan pendengarannya, halus budinya, dan selalu berbuat untuk kemaslahatan diri dan umatnya. Dan bukan seperti yang terjadi sekarang ini, yaitu masih tertinggal jauh di belakang komunitas lainnya. Wallahu a'lam Berikut ini adalah kumpulan Tanya-Jawab program diskusi WhatsApp Group Muslimah News ID Bertema “Menyoal Arah Pendidikan Indonesia” yang dipandu oleh Ustazah Noor Afeefa. Nadiem Terpilih, Ada Apakah? 1. Pertanyaan dari Tanti-Tegal Padahal mereka sudah mengetahui bahwa Nadiem tidak memiliki basic’ tentang pendidikan, bahkan dikatakan bahwa Nadiem akan belajar tentang pendidikan dari nol. Namun mengapa mereka memilih Nadiem sebagai Mendikbud? Apakah ada tujuan tertentu dari terpilihnya Nadiem sebagai Mendikbud? 2. Pertanyaan dari Rahmah-Tanjung Morawa Saat ini, kondisi negeri kita semakin meresahkan. Dengan diangkatnya para Menteri yang tidak tepat di bidangnya, meskipun edisi kabinet sebelumnya juga bukanlah orang-orang yang mampu mengurai masalah di negeri ini. Menurut Ustazah, apakah ada kemungkinan ke depannya pendidikan akan diarahkan kepada deradikalisasi? Mungkin link and match’ pula dengan Kemenag. Lalu, akan dibawa ke mana pula negeri ini? Jazakumullah khayr atas tanggapannya. 3. Pertanyaan dari Hikmah-Pasuruan Apa hubungan terpilihnya Nadiem dengan suksesi RI Jawaban dari Ustazah Noor Afeefa Kebijakan sebuah negara dalam hal ini penyusunan kabinet tidak pernah lepas dari konsep politik yang diadopsi. Sistem politik di Indonesia–meski mengemban demokrasi–hakikatnya memberikan kedaulatan dan kekuasaan bagi segelintir pihak, yaitu penguasa dan kroninya terutama pengusaha. Penguasa harus memastikan semua kebijakannya memuluskan jalan bagi terwujudnya kepentingan mereka. Karena itu dipilihnya Menteri Nadiem pastilah untuk kepentingan itu. Kesesuaian bidang bisa dicari-cari. Kepiawaian Nadiem dalam dunia teknologi informasi dan latar belakang bisnisnya dianggap nyambung dengan dunia pendidikan. Sebab, dianggap bisa memetakan SDM ke depan. Dipilihnya Nadiem dipastikan menjadi jalan lapang untuk memuluskan agenda liberalisasi bagi proyek-proyek ekonomi mereka. Sebab, pangsa pasar dunia pendidikan di Indonesia cukup tinggi baik sekolah, guru, dan siswa. Bahkan Indonesia menjadi negara keempat terbesar di dunia. Ini tentu tak bisa dilewatkan begitu saja. Bisa jadi, hadirnya Nadiem juga untuk menjadi contoh profil SDM yang pluralis tapi berhasil’. Sebagaimana diketahui istri Nadiem beragama Katholik. Maka generasi milenial diharapkan bisa bersikap toleran. Ini sejalan dengan misi deradikalisasi yang dicanangkan Presiden. Sementara, deradikalisasi juga merupakan misi untuk memuluskan agenda liberalisasi proyek ekonomi mereka. Sebab, yang paling lantang menentang proyek mereka adalah yang selama ini dicap radikal. Kehadiran Menteri yang juga pebisnis sukses dengan kepiawaian dibidang teknologi informasi ini juga akan memuluskan agenda Revolusi Industri Sebagaimana diketahui RI yang digagas Barat sejatinya adalah penjajahan gaya baru berkedok kemajuan teknologi. Indonesia menjadi salah satu pangsa pasar terbesar jualan teknologi tersebut. Bukan sebagai konsumen saja. Pendidikan berfungsi sebagai sarana untuk mencetak tenaga terdidik yang akan memenuhi pasar tenaga kerja bagi jualan teknologi yang mereka buat. Karenanya, pendidikan mengarah kepada link and match dengan dunia usaha dan industri. [MNews] Pendidikan Berorientasi Pekerjaan 4. Pertanyaan dari Ningsih-Jogja Siapa sebenarnya yang diuntungkan di balik kurikulum sistem pendidikan yang berorientasi materi sebagaimana ke depan sistem pendidikan di negeri ini? Mengingat di benak sebagian besar masyarakat menganggap belajar itu untuk mencari pekerjaan/berorientasi materi. Mohon tanggapannya Ustazah. 5. Pertanyaan dari Ira-Masohi Menyikapi proyek Mendikbud baru, apa yang harus kita lakukan agar masyarakat sadar bahwa pendidikan itu bukan sekadar mendapat ijazah dan bisa bekerja? Karena yang tertanam di kepala para orang tua adalah pendidikan yang sudah ditempuh harus dibayar dengan bekerja. Dan bagaimana menyadarkan para pelajar bahwa pendidikan yang ideal di dalam Islam bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus, tetapi terikat dengan aturan Islam dan memahami tujuan hidup itu juga penting? Jawaban dari Ustazah Noor Afeefa Tentang pendidikan yang berorientasi pekerjaan, maka inilah ciri pendidikan dalam sistem kapitalis. Konsep Knowledge Based Economy mengharuskan ilmu pendidikan menjadi dasar kunci bagi pertumbuhan keberhasilan ekonomi. Maka pendidikan harus diarahkan untuk kepentingan ekonomi, bukan semata-mata ilmu apalagi bagi pembentukan kepribadian karakter. Dengan konsep ini, maka tentu saja yang paling diuntungkan adalah para pengusaha pemilik modal. Dan inilah yang selama ini terjadi di Indonesia. Bahkan kriteria keberhasilan pendidikan–terutama pendidikan vokasi–hanya ditentukan oleh seberapa banyak lulusannya bisa diterima di dunia kerja. Program keterhubungan pendidikan dengan dunia usaha dan industri menunjukkan bahwa target pendidikan adalah bekerja. Bonus demografi memang menjadi problem jika mereka tidak memiliki ilmu dan keahlian. Pengangguran akan menjadi penyakit masyarakat. Namun, pengangguran tentu tidak semata-mata problem pendidikan. Ada problem politik, sosial, dan ekonomi. Dan sistem kapitalis itulah penyebab utama pengangguran. Jadi bukan aspek pendidikan saja. Di sisi lain, manusia membutuhkan pekerjaan, apalagi laki-laki. Bagi mereka mencari nafkah wajib hukumnya. Namun, pekerjaan sebenarnya hanya implikasi hasil alami dari proses pendidikan. Ia bukanlah tujuan pendidikan. Dan sangat berbahaya jika pendidikan ditujukan untuk bekerja. Pendidikan hakiki bertujuan menghasilkan manusia terdidik, bertambah baik bukan sekadar pintar apalagi sekadar bisa bekerja. Manusia cerdas dalam pandangan Islam adalah mereka yang memiliki ilmu. Dengan ilmunya mereka semakin takut dan taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jadilah orang yang cerdas itu orang yang bertakwa. Dengan ilmu dan kecerdasannya pula ia mampu mengelola bumi ini baik dengan tenaganya maupun hartanya sesuai aturan Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah target pendidikan. Dalam sistem kapitalis, makna pendidikan telah pudar; keluar dari hakikatnya. Kesempitan hidup memaksa masyarakat meraih target pendidikan hanya sekadar urusan perut, yaitu pekerjaan atau mendapatkan materi. Semoga masyarakat kian memahami rusaknya sistem ini dan berusaha mewujudkan sistem Khilafah Islam. [MNews] Terjebak Pendidikan Sekuler 6. Pertanyaan dari Fattah UlJ-Solo Ustazah, di era pendidikan sekuler ini, bagaimana cara kita agar tidak terlalu terjebak oleh sistem pendidikan terutama untuk yang bersekolah di sekolah negeri? Syukron. 7. Pertanyaan dari Yuni-Ngawi Bagaimana sikap kita sebagai orang tua dalam menghadapi era pendidikan sekuler yang semakin jauh dari aturan Islam? Karena bukan hanya sekolah negeri saja, bahkan sekarang sekolah yang berbasis agama pun sudah tercemari dengan ide-ide sekuler, sehingga orang tua dibuat bingung dalam menentukan pendidikan putra putrinya. Jawaban dari Ustazah Noor Afeefa Di sekolah negeri saat ini memang minim pembentukan dan penguatan syakhsiyah kepribadian Islamnya. Demikian pula untuk pemahaman tsaqafah Islamnya. Inilah konsekuensi ketika sistem pendidikan tidak sesuai Islam. Hal yang paling mendasar dan penting dalam pendidikan justru diabaikan. Agar tidak terjebak dengan arah pendidikan sekuler, maka orang tua harus sangat berhati-hati dan memperhatikan perkembangan pendidikan anak-anaknya. Sering ditemui anak-anak mendapatkan pelajaran di sekolah yang tidak sesuai dengan akidah dan syariah Islam. Maka tugas orang tua untuk meluruskannya. Orang tua juga harus memberikan tambahan bimbingan kepada anak-anak, baik dilakukan secara sendiri-sendiri, maupun berjamaah dengan orang tua lain. Tambahan bimbingan pembinaan lebih dikhususkan berkaitan dengan pembentukan kepribadian pola pikir dan pola sikapnya agar sesuai Islam. Ini penting agar mereka memiliki dasar yang cukup untuk menyaring semua ilmu yang diterimanya di sekolah. Kemudian, orang tua juga harus menyadari pentingnya amar makruf nahi mungkar. Kemungkaran yang terjadi di depan mata, baik menyangkut dunia pendidikan maupun sistem sekuler kapitalis yang melahirkan dan melanggengkannya, harus terus dikoreksi agar sesuai dengan Islam. [MNews] Mewujudkan Pendidikan Tinggi yang Menyelaraskan Iptek dan Imtak 8. Pertanyaan dari Maratus Ririn-Surabaya Bagaimana Khilafah dapat mewujudkan pendidikan tinggi terbaik di dunia yang menyelaraskan antara penguasaan iptek dan pengamalan imtak? Jawaban dari Ustazah Noor Afeefa Sejarah kekhilafahan telah mencatat majunya ilmu pengetahuan melalui orang-orang bertakwa. Tercatat al Khawarizmi, al-Kindi, Jabir al-Hayyan, dan sebagainya. Suatu saat pun Khilafah Islam kelak dapat mewujudkan pendidikan tinggi terbaik dunia. Beberapa hal berikut yang menjadi faktor penentunya Pertama, menjadikan akidah Islam sebagai asas dalam sistem pendidikan. Hal ini karena Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menggunakan akalnya dalam memahami hakikat alam semesta. Pada akhirnya terdoronglah untuk melakukan berbagai pencapaian di bidang sains dan teknologi. Dengan dorongan akidah, mereka akan menjadi ilmuwan yang bertakwa. Kedua, negara Khilafah memberikan support penuh berupa anggaran hingga fasilitas untuk pengembangan ilmu dan teknologi. Ini berbeda dengan kondisi sekarang di mana negara minim perhatian, sehingga peta riset di berbagai pendidikan tinggi dikuasai korporasi dan hasil riset pun mereka kuasai. Ketiga, negara Khilafah bersungguh-sungguh memberikan pelayanan pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan tujuan pendidikan Islam. Saat mereka telah kuat akidah dan tsaqafah Islamnya di pendidikan dasar menengah, mereka tidak akan ragu lagi ketika mempelajari berbagai ilmu di pendidikan tinggi. Jadi, keberhasilan di pendidikan tinggi juga ditentukan oleh keberhasilan di pendidikan dasar menengahnya. Sistem pendidikan Islam dilaksanakan secara terpadu dan menyeluruh dari dasar hingga pendidikan tinggi. Keempat, negara Khilafah menerapkan sistem politik dan ekonomi sesuai syariat. Hal ini akan menjamin stabilitas politik dan ekonomi negara. Kondisi ini sangat mendorong keberhasilan pendidikan tinggi yang memadukan iptek dan takwa bagi kemajuan Islam dan kaum muslim. [MNews] Pendidikan Bagi Kaum Milenial 9. Pertanyaan dari Isti-Tanah Paser Sambutan kaum milenial terkait sistem pendidikan yang seakan cocok dengan kondisi terkini. Mohon penjelasan tantangan terbaru terkait hal ini Ustadzah. Jawaban dari Ustazah Noor Afeefa Inilah tantangan baru dakwah Islam. Kaum milenial harus dipahamkan tentang hakikat sebuah pendidikan. Bahwa pendidikan bukanlah bertujuan untuk bekerja. Pendidikan harus ditujukan untuk mendapatkan ilmu dan membentuk kepribadian Islami. Memang benar bahwa mereka harus memiliki ilmu agar bisa menghadapi era desrupsi. Namun, mereka tidak boleh kehilangan tolok ukur syariat tentang baik buruk dan benar salah. Maka, mendekatkan kaum milenial dengan ajaran Islam mutlak diperlukan. Inilah yang akan menyetir dan mengarahkan ke mana ilmu mereka berlabuh. Tolok ukur itu pula yang akan menyeleksi ilmu seperti apa yang perlu dipelajari dan dikembangkan, dan mana yang harus ditinggalkan. Saat ini standar itu telah kabur bahkan hilang. [MNews] Agar Diri Pengajar Bisa Maksimal 10. Pertanyaan dari Rifa-Bandung Ustazah, menyikapi bahwa dicanangkan program pendidikan yang 5 lima tahun ke depan akan dikelola oleh seorang pebisnis sehingga terbenakan bidang pendidikan hanya menjadi lahan bisnis. Bukankah memang sejak lama pendidikan di negeri +62 ini sudah kehilangan jati dirinya dalam mendidik dan mengajar? Bahkan mindset yang terbentuk atas dorongan sistem dan mungkin belum terbangun kesadaran para pengajar untuk memaksimalkan pengajaran di kelas, dalam artian saya menyaksikan sendiri dengan tidak mengurangi rasa simpati kepada para pengajar lainnya yang sempat berdemonstrasi, bukan hanya beberapa yang bisa dibilang makan gaji buta. Karena saya amati pendidikan saat ini hanyalah formalitas untuk sekadar mendapat STTB yang ujung-ujungnya untuk mendapatkan pekerjaan. Sebetulnya gerakan besar seperti apa yang harus dilakukan untuk mengefisienkan waktu agar tidak mubazir, tetapi ilmu dunia mereka dapat maksimal sehingga mereka juga punya waktu mencari ilmu akhirat? Jawaban dari Ustazah Noor Afeefa Semua insan pendidikan harus dipahamkan dengan sistem pendidikan Islam. Mereka bisa menerapkan sejauh yang bisa mereka lakukan secara pribadi. Misalnya, memberikan materi pembelajaran yang sesuai ajaran Islam atau menerapkan perilaku dan peraturan Islami di lingkungan pendidikan, seperti cara berpakaian syar’i, mengatur pergaulan laki-laki dan perempuan, dan sebagainya. Di samping itu, mereka juga harus memperjuangkan terwujudnya sistem tersebut. Yakni, dengan berdakwah kepada masyarakat tentang pentingnya sistem Khilafah yang akan menerapkan sistem pendidikan Islam. Mengoreksi penguasa juga menjadi bagian dari dakwah Islam. Namun, tuntutannya harus jelas, yakni menghendaki diterapkannya sistem pendidikan Islam dalam bingkai Khilafah. [MNews] Tantangan bagi Pengemban Dakwah di Tengah Pendidikan Sekuler 11. Pertanyaan dari Aulia Rahmah-Gresik Pada akhirnya negara yang mengambil pola pendidikan sekuler akan menganggap biasa kerusakan moral, karena pendidikan hanya dipandang sebagai jalan untuk mencari kepuasan yang hanya bersifat materi uang, kedudukan, dll.. Karena hal ini diemban oleh negara sehingga kaum muslimin pun tak menyadari bahwa pendidikan sekuler adalah sumber masalah dan terjangkiti pula oleh virus islamofobia. Bagaimana upaya kita agar tetap kuat menjadi pejuang tangguh di tengah gempuran fitnah yang skalanya tidak hanya nasional bahkan internasional? Jazakillah khoir atas jawabannya. 12. Pertanyaan dari Mulyani-Lampung Sekularisasi bangsa ini sudah dilakukan di semua lini, tak terkecuali di sektor pendidikan. Sementara ruang dan medan dakwah bagi partai ideologis semakin dipersempit dengan dibuatnya berbagai undang-undang undang dan aturan kufur. Bagaimana menyikapi hal ini? Sebagai ASN kita ingin tetap berdakwah Islam kaffah untuk memenuhi perintah dan menggapai rida Allah, namun tidak bisa dipungkiri ada sedikit kekhawatiran mengingat situasi dakwah saat ini. Jawaban dari Ustazah Noor Afeefa Pendidikan hanyalah satu dari sekian banyak kebijakan penguasa yang menyakiti rakyat dan menjauhkan kaum muslim dari agamanya. Oleh karenanya, seluruh umat harus menyadari problem ini dan memahami bagaimana solusinya dalam Islam. Para pengemban dakwah harus berjuang dengan sekuat tenaga mendakwahkannya ke tengah-tengah umat. Kesabaran memang harus selalu dikuatkan. Sebab, gempuran fitnah pasti selalu mengiringi. Mereka bukan saja diteror atas seruan kebenaran yang disampaikan. Mereka juga harus istikamah dalam menjalankan hukum syariat. Mendidik anak dengan cara sahih tentu tidak mudah dalam sistem sekuler kapitalis ini. Pengorbanan berlipat inilah yang akan membuahkan kebaikan di dunia dan akhirat kelak. Amal dakwah merupakan amal mulia karena menolong agama Allah. Maka pengemban dakwah adalah hamba Allah terbaik yang akan ditolong-Nya. “Wahai orang-orang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” TQS Muhammad [47] 7 Semoga hal ini menguatkan kita semua untuk terus berjuang menegakkan kebenaran demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin. [MNews] Artikel pengantar diskusi bisa dibaca di sini Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments! Memahami Konsep Dasar dan Lingkup KajianOleh; Wahdi SayutiA. Pengertian Pendidikan IslamMemahami pendidikan Islam dapat ditelusuri melalui keseluruhan sejarah kemunculan Islam itu sendiri. Tentu saja untuk memahaminya, tidaklah dipahami sebagai sebuah sistem pendidikan yang sudah mapan dan sistematis, melainkan proses pendidikan lebih banyak terjadi secara insidental bahkan mungkin lebih banyak yang bersifat jawaban dari berbagai problematika yang berkembang pada masa dalam Islam, secara bahasa memiliki terma yang sangat varian. Perbedaan ini tidak terlepas dari banyaknya istilah yang muncul dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits—sebagai sumber rujukan utama pendidikan Islam—yang menyebutkan kata kalimah yang memiliki konotasi pendidikan atau pengajaran. Setidaknya, ada empat 4 istilah yang digunakan untuk menyebutkan makna pendidikan, misalnya tarbiyah, ta’dib, ta’lim dan riyadhah. Tiga 3 dari empat 4 istilah tersebut pernah direkomendasikan oleh Konfrensi Internasional I tentang Pendidikan Islam di Mekkah pada tahun 1977.[1] Masing-masing terma tersebut, jelas memiliki aksentuasi dan implikasi yang berbeda. Berikut akan dijelaskan masing-masing istilah tersebut. 1. Al-TarbiyahMenurut Abdurrahman Al-Nahlawi, kata tarbiyah secara bahasa merupakan kata yang berasal tiga 3 akar kata, yakni, pertama raba – yarbu, yang berarti bertambah atau bertumbuh. Pengertian ini dapat dilihat dalam Al-Qur’an, surat Al-Rum, ayat 39.[2] Kedua, berasal dari rabiya-yarba, yang berarti menjadi dasar, dan yang ketiga, rabba-yarubbu, yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntut, menjaga dan memelihara. Pengertian ini dapat dilihat pada Al-Qur’an, surat Al-Isra, ayat 24.[3] Sementara, menurut Naquib Al-Attas, kata tarbiyah mengandung konotasi mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, menumbuhkan membentuk dan juga menjadikannya lebih matang. Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan Al-Tarbiyah adalah proses mengasuh, membina, mengembangkan, memelihara serta menjadi kematangan bagi suatu objek. Bahkan dalam hal ini, Imam Baidawi memperjelas makna Tarbiyah dengan “Al Rabbu fi al Ashli bima’na al-Tarbiyah, wahiya al-Tabligh al-Syai’u ila kamalihi syai’an fa syay’an Al-Rabb asal katanya bermakna Tarbiyah, yakni menyampaikan atau mengantarkan sesuatu menuju ke arah kesempurnaan sedikti demi sedikit.2. Al-Ta’dibKata Ta’dib merupakan bentuk masdar dari kata addaba, yang berarti pengenalan dan pengakuan yang secara bertahap ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan Kekuasaan dan Keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaannya.[4] Pengertian ini didasarkan pada Hadits Rasulullah saw. yang mengatakan “addabani rabbi fa ahsana ta’dibi” Tuhanku telah mendidikku, sehingga menjadikan baik pendidikanku. Kata Ta’dib ini menurut Naquib Al-Attas merupakan istilah yang lebih mendekati pemahaman ilm. Atau dengan kata lain Ta’dib dipahami sebagai istilah pendidikan yang lebih mengarah pada proses pembelajaran, pengetahuan dan pengasuhan. Oleh karenanya, Naquib beranggapan bahwa penggunaan istilah Ta’dib lebih proporsional ketimbang istilah Tarbiyah untuk menyebut istilah Pendidikan Al-Ta’lim Menurut Abdul Fattah Jalal dalam buku Minal Ushul al-Tarbawiyah fi al-Islam, istilah Ta’lim diartikan dengan proses yang terus menerus diusahakan manusia sejak lahir untuk melakukan pembinaan pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah.[5] Batasan pengertian ini dipahami lebih luas cakupannya dibandingkan dengan istilah Al-Tarbiyah, terutama dalam konteks sequency cakupan dan wilayah subjek atau objek didiknya. Sementara menurut Athiyah Al-Abrasy, ta’lim diartikan dengan upaya menyiapkan individu dengan mengacu pada aspek-aspek tertentu saja. Al-Ta’lim merupakan bagian kecil dari al-tarbiyah alaqliyah, yang hanya mencakup domaik kognitif saja dan tidak menyentuh aspek domain afektif dan Riyadhah Istilah riyadhah merupakan istilah pendidikan yang digunakan dan dikembangkan oleh Imam Al-Ghazali untuk menyebutkan istilah pelatihan terhadap pribadi individu pada fase anak-anak, atau yang dikenal dengan riyadhatusshibyan.[6] Imam Al-Ghazali dalam mendidik anak, lebih menekankan pada domain afektif dan psikomotor dibandingkan penguasan dan pengisian domain kognitif intelektual. Dalam praksisnya, para pakar berbeda pendapat mengenai definisi pendidikan Islam itu sendiri. Berikut beberapa pendapat para ahli pendidikan Islam dalam mendefinisikan istilah Pendidikan Islam;a. Muhammad Athiyah Al Abrasyi; “Pendidikan Islam Al Tarbiyah Al Islamiyah adalah usaha untuk menyiapkan manusia agar hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, sempurna budi pekertinya, teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaan, manis tutur katanya baik lisan maupun D. Marimba; Pendidikan Islam merupakan bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran M. Yusuf Al Qardawi; pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan ketrampilannya. Karenanya pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya serta manis dan pahitnya.[7]d. Hasan Langgulung; Pendidikan Islam merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.[8]e. Azyumardi Azra; Pendidikan Islam merupakan salah satu aspek saja dari ajaran Islam secara keseluruhan. Karenanya, tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertaqwa kepada-Nya dan dapat mencapai kehidupan berbahagia di dunia dan akhirat.[9]f. Zakiyah Daradjat; Pendidikan Islam merupakan proses pembentukan kepribadian manusia sebagai muslim.[10]Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah proses bimbingan kepada manusia yang mencakup jasmani dan rohani yang berdasarkan pada ajaran dan dogma agama Islam agar terbentuk kepribadian yang utama menurut aturan Islam dalam kehidupannya sehingga kelak memperoleh kebahagiaan di akhirat yang muncul dan dapat didiskusikan adalah dari beberapa istilah tersebut tarbiyah, ta’dib, ta’lim dan riyadhah manakah yang relevan untuk menyebutkan dan mewakili istilah pendidikan Islam?, Pertanyaan lain yang dapat dimunculkan adalah “apakah pendidikan Islam itu sama atau berbeda dengan pendidikan pada umumnya berkaitan dengan dasar sumber, orientasi serta nilai yang ditransfer”.B. Pengertian Ilmu Pendidikan Islam Secara sederhana yang dimaksud dengan Ilmu Pendidikan Islam adalah ilmu yang membahas dan memuat teori tentang pendidikan Islam. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan apakah dalam Ilmu Pendidikan Islam, terdapat teori yang tidak berdasarkan Islam?. Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang Ilmu Pendidikan Islam ini, maka akan diulas terlebih dulu mengenai pengertian ilmu itu sendiri. Menurut Ahmad Tafsir, Ilmu merupakan pengetahuan yang logis dan mempunyai bukti empirik dan dilakukan dengan cara riset penelitian.[11] Singkatnya—menurut Tafsir—yang dimaksud dengan ilmu haruslah memuat objek yang empiris serta dapat diterima dengan logis. Lebih lanjut, Tafsir membuat matriks pengetahuan manusia sebagai berikutTabel 1. Matriks Pengetahuan ManusiaDiadaptasi dari Ahmad TafsirBerdasarkan pengertian dan matriks di atas, maka yang dimaksud dengan ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh manusia atas dasar riset, bersifat empiris dan dapat dilakukan dengan menggunakan indera dan akal. Pertanyaannya kemudian, apakah Pendidikan Islam sudah memenuhi aspek-aspek tentang Ilmu tersebut atau belum?. Jika sudah maka Pendidikan Islam dapat dikategorikan sebagai ilmu science, akan tetapi jika salah satu syaratnya hilang, maka Pendidikan Islam belum “layak” dikategorikan sebagai suatu ilmu science. Seperti disinggung dimuka, bahwa Ilmu Pendidikan Islam secara teoritikal merupakan pengetahuan yang membahas tentang teori-toeri pendidikan yang berdasarkan atas Islam, yang oleh karenanya pembahasan yang dimuat dalam Ilmu Pendidikan Islam adalah teori-teori yang terkait dengan pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an dan Ruang Lingkup Ilmu Pendidikan Islam Sebagaimana pengertiannya, maka lingkup bahasan yang menjadi kajian Ilmu Pendidikan Islam ini adalah masalah-masalah pendidikan atas dasar ajaran Islam yang mencakup aspek tujuan, pendidik, anak didik, bahan, metode, kurikulum, alat, evaluasi dan lembaga-lembaga yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan Fungsi Pendidikan Islam Secara sederhana, fungsi Pendidikan Islam adalah sarana untuk menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan Islam dapat tercapai dan berjalan dengan lancar. Menurut Kurshid Ahmad, fungsi pendidikan Islam adalahAlat untuk memelihara, memperluas dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide masyarakat dan nasionalAlat untuk mengadakan perubahan, inovasi dan perkembangan yang secara garis besarnya melalui pengetahuan dan skill yang baru ditemukan dan melatih tenaga-tenaga manusia yang produktif untuk menemukan perimbangan perubahan sosial dan Sumber RujukanArifin, HM., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta Bumi Aksara, 2000, Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta PT. Logos Wacana Ilmu, 2000, Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta Bumi Aksara, 2000, cet. ke-4Muhamin, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, Bandung PT. Trigenda Karya, 1993, cet. ke-1Mulkhan, Abdul Munir, Nalar Spiritual Pendidikan; Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, Yogyakarta PT. Tiara Wacana, 2002, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta Kalam Mulia, 1994, cet. ke-1Soebahar, H. Abd. Halim, Wawasan Baru Pendidikan Islam, Jakarta Kalam Mulia, 2002, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung PT. Remaja Rosdakarya, 2001, pada perkuliahan Kedua Mata Kuliah Ilmu Pendidikan Islam di Program Studi Pendidikan IPS, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu, 09 Maret 2011[1]Lihat, Abdul Halim Soebahar, Wawasan Baru Pendidikan Islam, Jakarta Kalam Mulia, 2002, h. 2. Konfrensi tersebut merekomenadikan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah “totality in context of Islam inherent in the conotation of three each these term conveys concerning man in his society and environment in relation to God Islam related to ten other and together they represent the scope of education in Islam both “Formal” and “non Formal” Conference Book, 1997 1.[2]Wa mã ãtaitum min ribban liyarbũ fi amwãli al-nas falã yarbũ inda Allah Dan suatu riba tambahan yang kalian berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.[3]… rabbi irhamhumâ kamâ rabbayâni shaghirâ ya Tuhan, sayangilah keduanya ibu-bapak sebagaimana mereka telah memelihara mengasuhku sejak kecil.[4]Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofisdan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, Bandung PT. Trigenda Karya, 1993, h. 133-134[5]Lihat, Abd. Halim Soebahar, Op. Cit., h. 4-5, dan Muhamin, Ibid., h. 132[6]Muhaimin, h. 134[7]Yusuf Al Qardhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna, terj. Prof. H. Bustami A. Ghani dan Drs. Zainal Arifin Ahmad, Jakarta Bulan Bintang, 1980, h. 157[8]Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam Bandung Al Ma’arif, 1980, h. 94[9]Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta PT. Logos Wacana Ilmu, 2000, h. 8[10]Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta Bumi Aksara, 2000, cet. ke-4, h. 27-28[11]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung PT. Remaja Rosdakarya, 2001, h. 15 Setiap manusia yang hidup pasti membutuhkan pendidikan baik pendidikan formal ataupun informal. Pendidikan formal adalah proses belajar dan mencetak keahlian melalui lembaga formal dan dilakukan secara profesional. Sedangkan pendidikan informal, proses belajar tidak melulu harus melalui lembaga, melainkan dilakukan secara mandiri pun juga tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan atau data saja. Pendidikan juga berfungsi untuk membangun karakter, moralitas, kemampuan, dan keahlian tertentu pada seseorang. Tanpa pendidikan, manusia tidak akan belajar, mengevaluasi proses hidupnya, dan memiliki kemampuan untuk bisa memenuhi hidup dan membangun islam, pendidikan juga sangat diutamakan. Proses menuntut ilmu dan belajar sudah diperintahkan oleh Allah sejak manusia mulai dari kecil hingga ia menuju ke liang lahat. Sebagaimana hadist Rasulullah “Carilah ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat”.Pendidikan islam bukan hanya berkaitan dengan bagaimana orang mengenal agama dan fungsi agama, melainkan juga bisa mempraktekkan nilai-nilai dan panduan tersebut dengan baik dalam kehidupan diri, keluarga, dan masyarakat. Pendidikan islam bermaksud untuk membangun pondasi agar segala bidang yang ada di masyarakat bisa terbangun secara baik, benar, dan tidak menyesatkan Mengenai Pendidikan dalam IslamDalam islam terdapat dalil-dalil yang berkenaan mengenai pendidikan islam. Hal ini sebagaimana Al-Quran dan Hadist banyak memperingatkan manusia untuk mencari ilmu dan mengembangkan pengetahuan agar bisa memberikan manfaat luas di masyarakat. Hal ini sebagaimana islam hadir sebagai rahmatan lil Al Quran Surat Al Mujadalah ayat 11 “Wahai orang-orang yang beriman!Apabila dikatakan kepadamu,”Berilah kelapangan didalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat” Dalam ayat tersebut Allah memberikan informasi kepada umat islam bahwa di dalam majelis yaitu tempat untuk menuntut ilmu ditinggikan beberapa derajat bagi yang juga mempersilahkan orang yang lain untuk ikut dalam majelis. Hal ini berarti menunjukkan bahwa majelis ilmu adalah suatu hal yang penting diikuti sehingga Allah menyuruh untuk memberikan tempat duduk kepada yang lain walau harus ayat yang lain berkenaan dengan proses belajar adalah dalam Al-Quran Surat Al-Alaq. Hal ini menunjukkan bahwa Allah menyuruh kepada manusia untuk Iqro atau membaca. Dalam hal ini membaca tidak dibatasi pada membaca teks, namun juga membaca realitas, keadaan sekitar, dan apa yang nampak untuk bisa menyadari kekuasaan Allah dan mau untuk tunduk pada itu, pendidikan, bukan hanya sekedar bagaimana orang belajar di bangku formal. Pendidikan juga berbicara membaca keadaan dan Hadist “Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah saw, bersabda Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, memberikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara, atau emas” MajahDalam hadist di atas ditunjukkan bahwa untuk mencari ilmu adalah kewajiban dari setiap muslim. Mencari ilmu sama halnya sebagaimana muslim menjalani proses pendidikan. Pendidikan juga adalah kewajiban yang harus ditempuh oleh seorang ayat Al-Quran dan Hadist di atas, maka pendidikan dalam islam adalah suatu kewajiban terlebih hal yang berkaitan dengan islam-agama. Tidak ada satu alasan pun seorang muslim untuk melanggar kewajibannya dalam menuntut ilmu, melaksanakan Pendidikan Islam dengan yang LainPendidikan islam dengan pendidikan lainnya tentu memiliki perbedaan yang, walaupun secara umum tentunya pendidikan adalah proses untuk melakukan pembelajaran agar ada perubahan yang lebih baik dalam diri seseorang. Hal tersebut berakitan dengan skill, pola pikir, akhlak, atau masalah hidup lainnya. Berikut adalah hal-hal yang mendasar yang membedakan pendidikan islam dengan yang Ketauhidan ”Dan Ingatlah ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar”. QS Luqman 13Ayat diatas adalah bagaimana proses Luqman ketika proses memberikan pendidikan pada anaknhya. Luqman mengajarkan anaknya untuk tidak mempersekutukan Allah dan melakukan kezaliman. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran Luqman, yang merupakan teladan pendidikan dalam sejarah islam, mengedepankan Tauhid sebagai landasannya.“Dan sungguh, telah Kami Berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur kufur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji. Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan Kami Perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tua-nya. lbunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku Beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. QS 31 12-15Di ayat yang lain ini pula dijelaskan bahwa pendidikan pertama kali diawali dari orang tua dan keluarga. Seorang anak dididik dan dibesarkan pertama kali bukan dari lingkungan sekolah atau tempat bermainnya, melainkan dari orang tua. Untuk itu, pendidikan dari orang tua adalah hal yang cukup penting dan utama untuk untuk Mengabdi pada Allah ”Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” QS Adzariyat 54Allah menciptakan manusia semata-mata untuk mengabdi kepada Allah. Segala apa yang dilakukan di muka bumi berarti diorientasikan untuk bisa mengabdi sebaik-baiknya melaksanakan apa yang Allah juga penting dan sangat mempengaruhi cara kita untuk mengabdi kepada Allah. Tanpa pendidikan islam, manusia tidak akan banyak mengenal tentang islam, tentang Allah dan lain-lainnya termasuk mengenal aturan yang Allah proses belajar manusia akan mengenal Tuhan dan Ajaran dengan baik, sehingga bisa melaksanakannya dengan baik pula. Mustahil tanpa ilmu pengetahuan yang benar dan luas dapat benar-benar mengabdi, karena mengabdi pun butuh asumsi terlebih islam bertujuan untuk semakin mampu mengabdi kepada Allah. Sedangkan untuk pendidikan lainnya belum tentu bertujuan untuk hal tersebut, walaupun dalam hal teknis dan operasional bisa saja penerapannya ada yang sama dan berjalan Khalifah fil Ard, Membangun bukan Merusak Bumi “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. . . . ” QS Al-Baqarah 30 Manusia semata-mata diciptakan Allah untuk menjadi khalifah fil ard, yaitu pemimpin di muka bumi, untuk melaksanakan pembangunan di bumi bukan malah justru merusaknya. Untuk itu, dengan pendidikan islam tujuan utamanya adalah membentuk manusia membangun bumi di berbagai sektor-sektor yang ada mulai dari Politik, Sosial, Budaya, Ekonomi, Pendidikan, Hukum, Keamanan, IPTEK, tersebut tidak bisa terbangun jika tidak ada misi islam untuk mensejahterakan masyarakat, menegakkan keadilan, memberikan solusi, dengan prinsip islam yang rahmatan lil alamin. Sedangkan pendidikan lainnnya yang bukan pendidikan islam belum tentu mengorientasikan sebagaimana pendidikan islam orang-orang yang menganggap bahwa pendidikan hanya untuk gelar, formalitas, dan juga sebagai kebanggaan diri. Islam tidak pernah mengajarkan hal tersebut. Aspek terpenting dari pendidikan adalah sejauh apa ilmu yang kita miilki mampu memberikan perubahan di dilaksanakannya Pendidikan IslamPendidikan islam memiliki tujuan yang ingin dicapai, khususnya untuk umat islam sebagai pemeluknya. Tujuan ini tidak lepas dari dasar diciptakan manusia hidup dan tinggal di muka bumi. Begitupun tujuan pendidikan islam tidak lepas dari orientasi Allah menciptakan manusia sebagai hamba yang harus taat dan patuh pada Agama dan Tuhan dengan Baik dan Benar Pendidikan islam bertujuan juga untuk bisa mengenalkan islam dengan baik dan benar. Tanpa pendidikan islam, kita bisa salah memahami dan tersesat dari jalan yang seahrusnya. Pendidikan islam yang kental membuat seseorang lebih bisa memahami secara mendalam dan lebih memahami berbagai masalah hati gelisah menurut islam salah satunya adalah karena dalam hidupnya tidak ada pegangan hidup. Jika manusia tidak mengenal agama dan Tuhan dengan benar maka kegelisahan akan muncul karena ia tidak memiliki tempat bergantung dan berserah diri dalam hidupnya. Untuk itu ada banyak manfaat beriman kepada Allah SWT, salah satunya adalah mendapatkan tuntunan hidup yang benar di jalan Pondasi atau Dasar dalam kehidupan Agama adalah dasar atau pondasi dalam kehidupan manusia. Rukun Islam dan Rukun Iman adalah pondasi dari pendidikan Islam dan Pendidikan Akhlak. Pendidikan islam bertujuan untuk membangun, memperkukuh, dan memperkuat pondasi tersebut dalam kehidupan manusia. Pembangunan dan perawatan pondasi tidak bisa sekali saja dilakukan, namun terus sekali manusia yang pintar, namun karena minim pendidikan agama akhirnya tidak mampu menghadapi berbagai tantangan nilai kerusakan sosial di masyarakat. Salah satu contohnya manusia tersebut sulit menerima kenyataan ujian kesulitan hidup. Dalam pendidikan islam tentunya hal ini diajarkan bagaimana menghadapi musibah dalam islam, agar tidak terjerumus jurang yang lebih dalam apalagi berputus asa. Ada bahaya putus asa dalam islam, untuk itu akhlak islam mengajarkan untuk bisa bersabar dan ikhlas menghadapi Menerapkan agamanya dalam kehidupan dan berbagai sektor kehidupan Tujuan pendidikan islam bukan sekedar untuk menambah ilmu semata, tetapi mengenal agama, hukum Allah diberbagai bidang, dan sunnatullah kehidupan lainnya yang tidak tertulis di Al-Quran seluruhnya Ayat-Ayat Semesta, Kauliyah.Persoalan agama tidak melulu hanya sekedar persoalan ritual dan spiritual. Bidang bidang kehidupan seperti ekonomi, budaya, sosial, dan lainnya juga sangat berkaitan erat dengan agama. Dengan mengenal agama dengan baik dan benar maka kita bisa memahaminya dan menerapkannya di berbagai sektor perintah Agama adalah menerapkan agama di segala sektor kehidupan, kita sadari bahwa Indonesia tidak seluruhnya memiliki keyakinan yang sama. Untuk itu perlu adanya toleransi terhadap ummat lain. Bukan berarti membenarkan ajarannya, namun sekedar bertoleransi. Ada sangat banyak manfaat toleransi antar umat beragama yang bisa didapatkan. Salah satunya adalah Islam dikenal sebagai agama yang rahmatan lil alamin serta membawakan Diri atas Lingkungan Agama Dengan adanya pendidikan islam tujuannya juga bisa mendapatkan pengondisian budaya dan lingkungan yang berbasis islam. Di tengah masyarakat yang liberal dan hedonis maka tentunya kita membutuhkan pengondisan agama untuk bisa memperkukuh keimanan dan akhlak di zaman saat ini sudah muncul ciri-ciri akhir zaman yang membuat kita harus semakin mengokohkan pondasi agama dan memberikan pendidikannya pada anak-anak, keluarga, dan lingkungan yang bisa kita ikut tengah zaman yang mulai banyak ditanami nilai liberal dan hedonis, tentunya sering kali membawa stress dan kegelisahan bagi diri kita yang masih memegang teguh keimanan. Islam mendidik dan mengajarkan bagaimana cara agar hati tenang dalam islam juga cara menghilangkan stress dalam islam. Hal ini merupakan bagian dari pendidikan akhlak islam yang ditanamkan agar manusia bisa fokus menjalani kehidupan dan berbuat baik dengannya. Untuk itu islam pun juga mengajarkan untuk tidak bersikap sombong dan tidak ikhlas. Sifat sombong dalam islam dan ciri-ciri orang yang tidak ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT tentu harus dipahami dan dihindari agar tidak merusak akhlak kita Pendidikan Islam Menurut Tokoh LainnyaTokoh-tokoh lainnya memiliki pendapat mengenai tujuan pendidikan islam. Imam Al Ghazali dan Muhammad Quthub adalah tokoh yang mewakili sosok ulama islam yang berbicara mengenai masalah Imam Al Ghazaly Tujuan Pendidikan menurut imam Al Ghazaly adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan pangkat dan bermegah-megah, dan hendaklah seorang pelajar itu belajar bukan untuk menipu orang-orang bodoh atau bermegah-megahan. Pendidikan Islam menurut Al Ghazaly adalah untuk membentuk Pendidikan Muhammad Quthub Tujuan pendidikan menurut Muhammad Quthub adalah lebih penting dari pada pendidikannya. Menurut Quthb tujuan umum pendidikan adalah manusia yang Taqwa, itulah manusia yang baik Islam tidak bergantung kepada sarana yang ada, melainkan bergantung dari tujuannya. Sarana bisa berganti kapanpun namun tujuan pendidikan islam untuk mencapai ketaqwaan tetaplah sama

pertanyaan tentang tujuan pendidikan islam